Fenomena gerhana bulan kembali menjadi perhatian publik di Indonesia. Pada Selasa, 3 Maret 2026 malam, langit Indonesia akan dihiasi oleh gerhana bulan total yang dikenal sebagai Blood Moon. Peristiwa astronomi ini menyebabkan bulan tampak berwarna kemerahan dan dapat disaksikan secara langsung dengan mata telanjang, selama kondisi cuaca mendukung dan langit cerah.
Peristiwa gerhana, baik gerhana Matahari maupun gerhana Bulan, bukan sekadar fenomena astronomi semata. Dalam perspektif Islam, kejadian ini memiliki dimensi spiritual yang kuat dan menjadi momentum untuk meningkatkan ibadah, terutama dengan melaksanakan shalat gerhana.
Para ulama bersepakat bahwa hukum shalat gerhana adalah sunnah yang sangat dianjurkan, atau dikenal dengan istilah sunnah muakkadah. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam an-Nawawi bahwa shalat gerhana termasuk ibadah yang sangat ditekankan pelaksanaannya ketika terjadi gerhana.
وَصَلَاةُ كُسُوفِ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ بِالْاِجْمَاعِ
Artinya, “Menurut kesepakatan para ulama (ijma’), hukum shalat gerhana matahari dan gerhana bulan adalah sunah muakkadah.” (Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, [Kairo, Darul Hadits: 1431 H/2010 M], juz VI, halaman 106).
Dasar hukum utama dari kesunahan shalat ini bersumber langsung dari perintah Rasulullah SAW. Beliau menegaskan bahwa gerhana adalah tanda kebesaran Allah yang harus disikapi dengan bersegera mendirikan shalat, sekaligus meluruskan mitos bahwa fenomena alam ini berkaitan dengan nasib atau kematian seseorang.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَكْسِفَانِ لِمَوْتِ اَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ تَعَالَى فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَقُومُواوَصَلُّوا
Artinya, “Sungguh, gerhana Matahari dan Bulan tidak terjadi sebab mati atau hidupnya seseorang, tetapi itu merupakan salah satu tanda kebesaran Allah Ta’ala. Karenanya, bila kalian melihat gerhana Matahari dan gerhana Bulan, bangkit dan shalatlah kalian.” (HR Bukhari-Muslim).
Baca juga Ketum MUI Jatim Sebut Ulama Inspirator Bung Karno Rumuskan Pancasila
Tata Cara Shalat Gerhana dengan Mudah
Meskipun terlihat sedikit berbeda dari shalat biasanya karena memiliki dua kali ruku’ dalam satu rakaat, shalat gerhana sebenarnya cukup simpel jika kita memahami urutannya. Berikut adalah langkah-langkah praktisnya:
Pertama, shalat gerhana bersamaan dengan takbiratul ihram. Berikut lafadz niatnya:
أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ / لِخُسُوْفِ الْقَمَرِ اِمَامًا / مَأْمُوْمًا لِلّهِ تَعَالَى
Artinya, “Saya shalat gerhana (bulan/matahari) dua rakaat menjadi makmum/imam karena Allah Ta’la”
Kedua, membaca doa iftitah, ta’wudz, Surah Al-Fatihah dan surah lainnya. Bacaan dikeraskan (jahr) saat gerhana bulan dan dilirihkan (sirr) saat gerhana matahari.
Ketiga, rukuk dan membaca doa rukuk.
Keempat, i’tidal sambil membaca sami’allahu liman hamidah rabbanaa wa lakal hamd, kemudian berdiri kembali membaca Surah Al-Fatihah dan surah lain yang lebih singkat dari bacaan pertama.
Kelima, rukuk kembali.
Keenam, i’tidal dan membaca sami’allahu liman hamidah rabbanaa wa lakal hamd.
Ketujuh, sujud dan membaca doa sujud.
Kedelapan, duduk di antara dua sujud.
Kesembilan, sujud yang kedua.
Kesepuluh, bangkit dari sujud lalu melaksanakan rakaat kedua sebagaimana rakaat pertama.
Kesebelas, membaca tahiyat, tasyahud, dan shalawat. Kedua belas, salam. Ketiga belas, setelah salam, khatib menyampaikan khutbah kepada jamaah.
Shalat gerhana adalah wujud ketundukan kita sebagai hamba di hadapan tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta. Dengan tata cara yang sudah dijelaskan di atas, semoga kita tidak lagi merasa bingung saat fenomena alam ini terjadi. Mari kita jadikan momen gerhana sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.
Jadwal Lengkap Fase Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026
Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), berikut tahapan gerhana bulan total yang akan terjadi di Indonesia.
Baca juga Keistimewaan Bulan Sya’ban dan Amalan yang Dianjurkan
Gerhana mulai terlihat samar (penumbra/P1): Pukul 15.42.44 WIB / 16.42.44 Wita / 17.42.44 WIT
Gerhana mulai terlihat sebagian (U1): Pukul 16.49.46 WIB / 17.49.46 Wita / 18.49.46 WIT
Gerhana total dimulai (U2): Pukul 18.03.56 WIB / 19.03.56 Wita / 20.03.56 WIT
Puncak gerhana (Bulan tertutup paling maksimal): Pukul 18.33.39 WIB / 19.33.39 Wita / 20.33.39 WIT
Gerhana total berakhir (U3): Pukul 19.03.23 WIB / 20.03.23 Wita / 21.03.23 WIT
Gerhana sebagian berakhir (U4): Pukul 20.17.33 WIB / 21.17.33 Wita / 22.17.33 WIT
Gerhana benar-benar selesai (penumbra/P4): Pukul 21.24.35 WIB / 22.24.35 Wita / 23.24.35 WIT
Secara keseluruhan, proses gerhana dari awal sampai selesai berlangsung sekitar 5 jam 41 menit. Adapun, fase b ulan benar-benar tertutup penuh atau total berlangsung hampir 1 jam.







