TUBAN – Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari wilayah Koordinator Wilayah (Korwil) IV Jawa Timur menggelar Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) di Pondok Pesantren Sunan Bejagung 2, Kabupaten Tuban, pada Ahad (17/5/2026). Pertemuan strategis ini dihadiri oleh jajaran pengurus MUI dari empat kabupaten, yakni Lamongan, Gresik, Tuban, dan Bojonegoro.
Selain menjadi ajang koordinasi program kerja, forum ini juga menyoroti berbagai dinamika umat mutakhir, termasuk maraknya pemberitaan negatif yang menyudutkan institusi pesantren dan figur kiai di beberapa daerah belakangan ini.
Merespons fenomena tersebut, Wakil Ketua Umum MUI Kabupaten Lamongan, Drs. KH. Abdul Mu’thi, SH., M.Pd., memberikan penegasan hukum dan moral yang kuat dalam sambutannya. Ia mengimbau masyarakat agar tidak menyamaratakan semua pihak yang berlabel kiai, terutama ketika ada oknum yang melakukan pelanggaran moral.
“Pemberitaan negatif hari ini tentang salah seorang oknum yang disebut kiai di wilayah Pati dan juga wilayah lainnya, itu kalau dilihat dalam perspektif Al-Qur’an menunjukkan bahwa mereka itu sejatinya bukan kiai,” ujar KH. Abdul Mu’thi tegas.
Menurutnya, kiai atau ulama sejati memiliki sanad karakter yang luhur layaknya para nabi (waratsatul anbiya). Karakter utama mereka adalah membangun kemaslahatan, bukan merusak tatanan sosial.
“Kiai itu karakternya seperti nabi dan pasti mempunyai semangat jihad fi sabilillah, bukan justru membuat kerusakan moral di tengah masyarakat,” tuturnya.
Lebih lanjut, ulama asal Lamongan ini menukil Al-Qur’an Surah As-Shaff ayat 10–11 untuk memberikan gambaran utuh mengenai profil seorang mukmin dan kiai yang sebenar-benarnya. Karakter kiai diidentikkan dengan para mujahid yang siap mengorbankan segalanya demi meninggikan kalimat Allah dan membimbing umat.
“Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan nyawamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.”
“Gambaran kiai yang sesungguhnya adalah mereka yang terus membina umat, mengorbankan waktu, harta, hingga nyawanya demi tegaknya nilai-nilai Islam. Itulah hakikat niaga dengan Allah yang menyelamatkan dari azab,” urai Kiai Mu’thi.
Di akhir arahannya, KH. Abdul Mu’thi juga menggarisbawahi pentingnya forum Rakorwil seperti yang diselenggarakan di Tuban ini. Menurutnya, silaturahmi tatap muka antar-ulama di tingkat daerah merupakan benteng pertahanan umat yang sangat krusial di era digital.
Melalui konsolidasi yang rutin, MUI dapat mendeteksi dini konflik, menyamakan persepsi, sekaligus merumuskan solusi atas berbagai problematika kontemporer yang dihadapi oleh masyarakat bawah.
“Pertemuan (MUI) seperti ini sangat penting untuk mengurai permasalahan-permasalahan yang ada, khususnya permasalahan umat. Sehingga, dinamika negatif seperti fitnah, hoaks, dan upaya adu domba yang marak bertebaran di media sosial bisa segera kita putus jalurnya,” pungkasnya.
Rakorwil IV MUI Jawa Timur ini diharapkan menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, baik dalam penguatan internal organisasi, peningkatan mutu pesantren, maupun panduan keagamaan bagi masyarakat demi menjaga stabilitas sosioreligius di wilayah Pantura dan sekitarnya. (MUI/Red)







